DUNIA HANYA BERHARAP PADA KHILAFAH,
BUKAN OBAMA
Buletin Al-Islam Edisi 429
Dunia baru saja menyaksikan, Barack Obama akhirnya terpilih
menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44. Banyak kalangan di
seluruh dunia, termasuk Dunia Islam, menyambut gembira kemenangan
Barack Hussein Obama sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak kalangan
berharap, Obama akan menyelamatkan Amerika Serikat dan membawa
perubahan yang besar terhadap dunia. Harapan yang sama juga muncul
dari sebagian umat Islam. Di dalam negeri, misalnya, Ketua MPR RI
Hidayat Nurwahid berharap, Barack Obama mampu menghadirkan tata dunia
baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan Amerika Serikat
(AS) yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden George W
Bush. "Saya berharap Obama juga melahirkan tata dunia baru yang lebih
berkeadilan, termasuk dalam konteks Timur Tengah," tegasnya.
(Hnw.or.id, 7/11/2008).
Obama dan Perubahan?
Banyak kalangan menilai, kemenangan Obama adalah
kemenangan "perubahan". "Perubahan" bahkan menjadi tema utama yang
berkali-kali disuarakan Obama di hadapan publik AS. Namun, dalam
konteks politik luar negeri AS, khususnya terhadap Dunia Islam,
harapan atas "perubahan" kebijakan AS terhadap Dunia Islam tampaknya
tidak bakalan terwujud. Ini bisa dilihat dari janji-janji "perubahan"
Obama saat kampanye, utamanya di bidang pertahanan dan luar negeri. Di
antara janji "perubahan" itu adalah: mengirim pasukan lebih banyak ke
Afganistan, melawan terorisme global, menyusun kekuatan internasional
untuk menekan Iran dan mencegah Iran mengembangkan nuklir (Republika,
6/11/2008).
Sepintas, memang ada beberapa janji perubahan ke arah positif
yang dikatakan Obama seperti: menarik pasukan dari Irak, beralih dari
unitelarisme ke politik multilateralisme, mengedepankan kerjasama dan
diplomasi dan mempercepat perdamaian Timur Tengah. Namun, tentu saja
itu hanya dalam tataran strategi politik, sama sekali tidak menyentuh
paradigma politik AS yang imperialistik (bersifat menjajah). Pasalnya,
AS tetaplah negara utama pengemban ideologi Kapitalisme, dan
penjajahan/imperialisme adalah metode baku politik luar negerinya.
Karena itu, AS di bawah Obama sekalipun, tetap akan mendukung
penjajahan Israel atas Palestina, misalnya. Dalam kampanyenya sebelum
menjadi presiden, Obama bahkan berkali-kali menegaskan dukungannya
atas Israel, "Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan
apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya
menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa
maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun
lalu," demikian salah satu kutipan pidato Obama.
Pernyataan ini diperkuat oleh Juru Bicara Obama, "Obama akan
menghormati kesepakatan-kesepakatan yang sudah dilakukan terkait
dengan bantuan dana bagi Israel dan akan mengusahakan agar bantuan itu
ditingkatkan sampai 30 miliar dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun."
(Suaramedia.com, 6/10/08).
Sebagai Negara Ideologis, AS Tak Akan Berubah
Mengomentari terpilihnya Obama, Taji Mustafa, perwakilan media
Hizbut Tahrir Inggris mengatakan, "Amerika bukanlah satu
orang...Amerika adalah sebuah negara kapitalis dengan seperangkat
kebijakan luar negeri kapitalis, yakni untuk menjajah negara-negara
lain. Dengan cara itulah, negara itu senantiasa mencari cara untuk
mempertahankan dominasinya di Dunia Islam dan terus melanjutkan agenda
eksploitasi kapitalisnya..." (Hizb.org.uk, 5/11/2008)
Karena itulah, siapa saja yang menjadi presiden AS dan partai
manapun yang berkuasa (Republik atau Demokrat) di AS, kebijakan AS
dalam menghadapi negara-negara Islam akan tetap sama. Bedanya, jika
Partai Republik berusaha meraih tujuan secara terang-terangan maka
Partai Demokrat menginginkan hal yang sama, tetapi dengan cara yang
lebih halus. Misal, dalam kasus Irak, Obama memang berencana akan
menarik pasukan AS secara bertahap dari Irak. Namun, hal ini lebih
karena Obama sangat memahami bahwa selama ini hegemoni AS terhadap
dunia semakin pudar akibat pendudukan AS terhadap Irak yang tidak
berdasarkan justifikasi yang kuat, di samping AS juga rugi besar di
Irak. Karena itulah, Obama lebih fokus pada Afganistan demi kembali
meraup dukungan penuh Eropa dan dunia. Rancangan inilah yang akan
dijalankan oleh AS untuk kembali merias wajahnya di hadapan dunia
setelah 8 tahun carut-marut akibat 'ulah' Bush.
Namun demikian, dunia tidak boleh melupakan
kejahatan AS di bawah Republik maupun Demokrat dalam hal
mengintervensi (baca: menyerang) negara lain. Setelah Perang Dunia II
saja AS—baik di bawah Republik maupun Demokrat—telah menyerang lebih
dari 20 negara di seluruh dunia seperti Yunani (1947-1949), Italia
(1948), Korea (1950-1953), Iran (1953), Guatemala (1954), Kongo
(1960), Kuba (1961), Vietnam (1969-1975), termasuk negara-negara lain
seperti Granada (1983), Libanon (1983), Libya (1958 dan 1983), Somalia
(1991-1992), Afganistan (1998-2004), Sudan (1998), Serbia, dan
terakhir Irak. Kebijakan AS yang barbar ini tentu akan terus
berlangsung dan kontinu.
Dunia Membutuhkan Khilafah
Dengan sedikit fakta di atas, sesungguhnya tidak layak dunia,
apalagi Dunia Islam, berharap pada kepemimpinan AS, meski yang
memimpin AS saat ini adalah Barack Obama. Dunia saat ini, tidak hanya
Dunia Islam, sesungguhnya membutuhkan Khilafah Islamiyah dan munculnya
kembali Imam al-A'zham (Pemimpin Agung), yakni Khalifah.
Umat Islam jelas membutuhkan Khilafah. Sebab, Khilafah adalah
kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan
hukum-hukum syariah dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru
dunia melalui dakwah dan jihad. Dengan Khilafahlah kaum Muslim bisa
benar-benar memenuhi secara praktis perintah dan seruan Allah SWT
kepada mereka:
]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ
وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan
Rasul-Nya jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberi kehidupan
kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).
Lebih dari itu, sebagaimana pernah disampaikan Syaikh Ismail
al-Wahwah, dengan tegaknya Khilafah, secara praktis:
1. Hukum-hukum syariah di tengah-tengah kaum Muslim
bakal tegak; hukum-hukum kufur yang diterapkan atas mereka saat ini
bakal tersungkur.
2. Islam akan cepat tersebar ke seluruh dunia melalui
dakwah dan jihad.
3. Negeri-negeri kaum Muslim bakal dipersatukan di bawah
kepemimpinan seorang khalifah. Tegaknya Khilafah akan menandakan
berakhirnya keterceraiberaian kaum Muslim di lebih dari 50 negara
negara-negara kecil tak berdaya.
4. Ikatan ukhuwah islamiyah yang sejati bakal terwujud
menggantikan ikatan patriotisme, nasionalisme, kesukuan dan yang
lainnya, yang telah memecah-belah kaum Muslim saat ini.
5. Umat mendapatkan kekuasaannya kembali yang telah
dirampas kaum kafir penjajah. Ini berarti pembebasan dari penghambaan
dan sikap membebek pada Barat kapitalis penjajah di seluruh aspek,
politik, budaya, pemikiran, ekonomi, pers media massa dan militer.
6. Negeri-negeri kaum Muslim yang dicaplok seperti Irak,
Afganistan, Kashmir, Timor Timur dan yang lainnya bakal dibebaskan.
Ini sekaligus juga berarti pengusiran terhadap militer asing agresor
yang telah menumpahkan darah, menyebabkan kehancuran dan menyemai
fitnah di negeri-negeri kita.
7. Kekayaan negeri-negeri Islam akan kembali ke pangkuan
kaum Muslim. Dengan begitu, terputuslah cengkeraman negara-negara dan
berbagai perusahaan Barat yang selama ini telah merampok kekayaan
umat. Ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memutus rantai kemiskinan
sistemik yang sengaja dibuat di negeri-negeri kaum Muslim.
8. Kebaikan, keutamaan dan keadilan akan tersebar luas;
penjagaan atas darah, kekayaan, kehormatan dan kemuliaan kaum Muslim
akan senantiasa terwujud. Dengan itu, terputuslah siklus fitnah,
kerusakan, dan ketidakstabilan yang disemai oleh kafir Barat dan
antek-anteknya di negeri-negeri kaum Muslim.
Itulah sebagian arti berdirinya kembali Khilafah. Jika
demikian, betapa besar kerugian yang diderita kaum Muslim akibat
tiadanya Khilafah, dan betapa besar kebutuhan kita akan kembalinya
Khilafah.
Sementara itu, kebutuhan kaum non-Muslim di dunia terhadap
Khilafah adalah karena sesungguhnya umat manusia saat ini tengah
berada di dalam penderitaan, kenestapaan serta sedang menghadapi
ancaman yang membahayakan masa depan mereka akibat kekosongan
spiritualitas dan hegemoni Kapitalisme yang terbukti telah banyak
menimbulkan kehancuran di seluruh dunia.
Khilafah akan mampu membebaskan umat manusia dari keburukan
Kapitalisme ini dan berbagai kejahatannya serta dari kepemimpinannya
yang merusak. Khilafah akan meruntuhkan asas-asas sistem Kapitalisme
yang bersifat manfaat belaka. Sebaliknya, Khilafah akan mengobarkan
nilai-nilai spiritual, moral dan kemanusiaan di seluruh dunia.
Khilafah akan berupaya menghancurkan negara-negara penjajah, utamanya
Amerika.
Khilafah akan berupaya menempuh berbagai kebijakan yang
mengokohkan nilai-nilai perlindungan atas umat manusia, darah, harta,
kehormatan dan kemuliaannya. Khilafah akan mencegah terjadinya
peperangan yang sia-sia. Khilafah akan menjaga hak generasi-generasi
yang akan datang terhadap lingkungan yang bersih tanpa polusi.
Karena itulah, betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan
Khilafah Islamiyah dan Khalifahnya sebagai Imam al-A'zham (Pemimpin
Agung). Betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan kepemimpinan
Islam seperti ini, bukan kepemimpinan Kapitalisme yang dipimpin AS
dengan Presiden Obama-nya atau siapapun.
Walhasil, saatnyalah kita bersatu menegakkan Daulah Khilafah
Islam yang akan menerapkan dan menyebarluaskan Islam sebagai rahmatan
lil 'alamin. Mahabenar Allah Yang berfirman:
]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ[
Tiadalah kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rahmat
bagi semesta alam. (QS al-Anbiya' [21]: 107).
Komentar al-islam:
Golput Akibat Parpol Kecewakan Rakyat (Republika, 10/11/2008).
Itulah demokrasi. Parpol sering lebih memihak pemodal ketimbang rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar