24 Mei 2015

Biarkan Burung-Burung Itu Bernyanyi Anakku

Pagi itu cerah sekali

ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh.





Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab,

mengiringi semburat kemerahan mentari pagi.

Ku dengar kicauan burung prenjak,

burung kesukaan anakku yang kini kian

tumbuh dewasa.





Selama ini,

semoga aku tak pernah menyesal,

membiarkan anak-anakku bermain,

membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso,

yang jauh dari kemegahan dan hinaar bingar metropolitan,

jauh dari cumbu rayu

perang,

jauh dari politik adu domba para politisi.

Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik,

memancing dan mandi di kali,

di iringi suara burung-burung,

desir

angin gunung yang semilir,

ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam

yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta.





Anakku,

bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang,

tentang damai dan kehidupan,

jangan biarkan prenjak terbang sendirian,

karena kehilangan kekasih tersayang.

Janganlah kau menjadi pembunuh,

meski hanya seekor burung yang kecil,

karena kecil itu amat berarti,

karena kita juga makhluk yang kecil

dan terasing.





Anakku

bukankah kau tahu

mentari datang untuk menyinari,

dan malam datang untuk engkau syukuri,

adakah hari ini engkau mengerti

harapan orang tuamu, setelah engkau besar nanti,

jangan berputus asa

jangan menyerah

karena dunia itu

tak selebar telapak tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar