Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

25 Agu 2015

Pendidikan Yang Sebenarnya

Pendidikan Sejati Adalah Orientasi Hati.
Kecerdasan tidak bisa menjadi jaminan keberhasilan di dalam pendidikan
(tarbiyah). Betapa banyak orang mengeluh karena kenakalan seseorang
yang cerdas. Ilmu yang memadai tidak bisa menjadi jaminan bahwa
seseorang telah benar-benar mendapatkan tarbiyah.

Sebagian kaum Yahudi yang 100% percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah
nabi yang akan di utus di akhir zaman (karena berita itu telah
termaktub di dalam kitab suci mereka). Akan tetapi di saat tiba waktu
kehadiran Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah mereka tidak mudah bagi
mereka untuk menerimanya. Itu bukan karena mereka tidak tahu kalau
beliau itu adalah Nabi yang mereka nanti-nanti. Tetapi karena ada yang
salah di dalam tarbiyah sehingga ilmunya pun tidak membantu mereka
untuk menginsyafi keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi. Kesalahan
tarbiyah tersebut menyebabkan kekosongan hatinya dari sifat insyaf dan
akhirnya datang penggantinya sifat takabbur dan dengki kepada Nabi
Muhamad SAW.

Medan tarbiyah adalah di dalam hati, dan karena tempatnya adalah hati,
sulit sekali untuk dideteksi penyakit-penyakitnya. Yang terlahir dari
tindak-tanduk itu hanya pancaran dari apa yang ada di dalam hati.
Tidak mudah bagi orang yang melihat pancaran itu untuk membedakan
apakah itu pancaran yang sesungguhnya atau palsu.

Dua orang yang memakai baju yang sama, bisa saja yang satu berniat
menutup aurat dan berdandan untuk bertemu dengan sahabat sementara
yang satu lagi hanya untuk menuruti hatinya yang penuh kesombongan
atau karena meniru model seorang terkenal dalam kemaksiatan.

Maka hakekat tarbiyah itu adalah membenarkan jalinan kita kepada Allah
SWT dan sesama manusia menuju esensi jalinan yang tertuang di dalam
qalbu. Pergeseran nilai secara perlahan sering terjadi di dalam hati
kita tanpa kita rasa namun tiba-tiba hati kita telah berubah dan subur
oleh penyakit-penyakitnya.

Seseorang yang merasa tawadhu ternyata disaat itu ia telah tersungkur
ke dalam jurang ketakaburan. Yang merasa dirinya lebih baik dari orang
lain adalah orang yang telah mengalami krisis nilai tarbiyah yang
drastis.
Oleh sebab itu para pakar tarbiyah yang sejati dalam terapi pengobatan
penyakit hati di samping menyuruh para siswanya untuk sering mendengar
wejangan-wejangan kerohaniahan tetapi mereka juga melatih siswanya
mujahadah dan riyadloh ( memerangi hawa nafsu). Bahkan tarbiyah dengan
terapi seperti ini lebih mereka dahulukan daripada ilmu itu sendiri.
Sebab ilmu yang tidak dibarengi dengan tarbiyah yang benar hanya akan
menjadikan hati penyandangnya semakin kotor.

Kesadaran seseorang akan kelemahan dirinya adalah kunci keberhasilan
dalam tarbiyah. Bahkan tidak banyak artinya sejuta petuah bagi orang
yang tidak merasa dirinya perlu kepada petuah. Introspeksi dengan
selalu mewaspadai tercemarnya hati dari penyakit-penyakitnya adalah
upaya menghadirkan sifat-sifat terpuji. Orang yang menginginkan
tarbiyah akan selalu membuka hatinya untuk menerima apa saja yang
menjadikan dirinya baik. Ia akan selalu melihat kebutuhan dirinya
kepada resep-resep untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati.
Kesadaran yang ada dalam dirinya akan kebutuhannya terhadap resep itu
adalah kunci keberhasilan. Ia tidak sibuk mencocok-cocokkan resep itu
untuk orang lain. Menjadikan dirinya obyek utama. Yang dituju
pesan-pesan moral adalah kesiagaan di dalam menerima tarbiyah.

Wallahu a'lam bishshowab.

Sumber : buyayahya.org

24 Agu 2015

Fadhilah Memberi Minum Anjing Yang Kehausan

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam pernah bercerita tentang
pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat
tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan
lelaki tersebut betul-betul telah kering. Lelaki ini terus melangkah
meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan
sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang
mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu.
Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.


Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya
sedang berdiri seekor anjing dengan raut muka yang memelas. Napasnya
kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. "Anjing ini pasti mengalami
dahaga sangat seperti yang telah aku derita," kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat
itu tak mungkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah
mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya
ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan
yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.


Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah SAW berkata, "Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni
dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga."


Para sahabat bertanya, "Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri
binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?"
"Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala," sahut Nabi.


Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih
kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah
binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis
tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?


Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram
dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci,
melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar,
"Irhamuu man fil ardl yarhamkum man fis samâ'
(sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.")

sumber : nu.or.id

23 Agu 2015

Macam-Macam Anjing dan Hukumnya

Macam-macam anjing dan hukumnya


والكلب ثلاثة أقسام: عقور وهذا لا خلاف في عدم احترامه وندب قتله وما فيه
نفع من اصطياد أو حراسة وهذا لا خلاف في احترامه وحرمة قتله وما لا نفع
فيه ولا ضرر وهو كلب السوق المسمى بالجعاصي، ومعتمد الرملي فيه أنه محترم
فيحرم قتله، وعند شيخ الإسلام يجوز قتله، فإن كان الكلب عقوراً ولكن فيه
نفع سن قتله تغليباً لجانب الضرر.
كاشفة السجا في شرح سفينة النجا (ص: 144

Intinya anjing ada tiga macam:

1, Anjing galak (suka menggigit atau ngejar-ngejar orang misalnya) ,
ini tidak ada kehormatannya dan sunah dibunuh.

2. Anjing yang bermanfaat untuk berburu dan menjaga rumah misalnya,
ini ada kehormatannya dan haram dibunuh.

3. Anjing pasar yang tidak berbahaya dan tidak ada manfaat, ini
khilaf, menurut Imam Ramli, ada kehormatannya dan haram dibunuh.
Menurut Syaikhul Islam boleh dibunuh.

Jika ada anjing punya manfaat tapi ia galak, maka dimenangkan sisi
kegalakannya daripada sisi manfaatnya jadi ia sunah dibunuh.

Naik Haji Berkali- kali Belum Tentu Berpahala

JAKARTA -- Beribadah haji berkali-kali disinyalir menghambat
kesempatan orang lain yang hendak berhaji juga.
"Saya setuju, orang yang sering naik haji tidak usah naik haji lagi,
tetapi saya tidak berani untuk mengatakan zalim," kata Ketua Majelis
Ulama Indonesia Pusat KH Cholil Ridwan, Kamis (13/8).


Ia menghimbau, umat Muslim mengutamakan bersedekah dan memberdayakan
masyarakat luas.
"Naik haji berkali-kali juga belum tentu berpahala. Kalau sedekah ke
fakir miskin itu lebih konkret pahalanya," tambah Cholil.


Cholil juga mengatakan, sampai saat ini MUI belum berencana
mengeluarkan fatwa terkait naik haji berulang kali. Lantaran larangan
tersebut belum menjadi salah satu agenda MUI untuk disidangkan.
Terlebih lagi, belum ada anggota masyarakat yang mempermasalahkannya.
"Jika masyarakat merasa terganggu, maka harus diusulkan kepada MUI,
minta agar kami membahasnya. Nanti akan ditanggapi," ujarnya.

Sumber : www.republika.co.id

24 Jun 2015

Mewaspadai Berita Orang Fasiq Dan Pengadu Domba

 

 

 

 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [Al Hujuraat:6]

Ayat di atas menjelaskan satu kejadian di zaman Nabi. Ketika itu Al Harits menghadap Nabi. Dan Nabi mengajaknya masuk ke dalam Islam. Al Harits pun bersyahadah masuk ke dalam Islam. Nabi mengajaknya untuk membayar zakat.

Al Harits menyanggupinya dan berkata: "Ya Rasulullah, aku akan pulang kepada kaumku dan mengajak mereka masuk Islam dan membayar zakat. Aku akan mengumpulkan zakatnya. Jika telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat."

Akhirnya Nabi mengutus Al Walid bin 'Uqbah untuk mengambil zakat pada Al Harits. Namun sebelum sampai di tempat, Al Walid takut dan akhirnya pulang dan memberi laporan palsu pada Nabi. Katanya Al Harits tidak mau membayar zakat bahkan mengancam akan membunuhnya.

Kemudian Nabi mengirim utusan yang lain untuk menemui Al Harits guna memeriksa kebenaran berita itu. Di tengah perjalanan, utusan tersebut bertemu Al Harits  beserta sahabatnya yang sedang pergi untuk menemui Nabi. Al Harits bertanya kepada utusan itu: "Kepada siapa kamu diutus?"

Utusan itu menjawab: "Kami diutus kepadamu."

Al Harits bertanya: "Mengapa?"

Mereka menjawab: "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al Walid bin 'Uqbah. Namun ia berkata bahwa engkau tidak mau membayar zakat dan bahkan ingin membunuhnya."

Al Harits berkata: "Demi Allah yang telah mengutus Muhammad, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku."

Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW, bertanyalah beliau: "Mengapa engkau tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku?"

Al Harits menjawab: "Demi Allah yang mengutus engkau dengan sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat demikian." Maka turunlah ayat Al Hujuraat:6 sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak mempercayai satu berita secara sepihak tanpa memeriksanya kepada kaum yang dituduh. (HR Ahmad).

Nah terhadap Muslim saja kita harus berhati-hati dalam menerima satu berita. Karena bisa jadi laporan itu tidak benar. Apalagi terhadap berita-berita yang disampaikan oleh orang-orang kafir atau sekuler yang membenci Islam.

Jika kita langsung mempercayai beritanya, bisa saja akhirnya kita marah dan membunuh orang yang dituduh berbuat jelek/difitnah padahal ternyata tidak benar. Kita harus memeriksanya langsung kepada orang yang dituduh/difitnah tersebut apa benar begitu.

Sebagai contoh kita sering marah kepada Malaysia yang dianggap merebut pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia. Padahal kasus itu telah dibawa ke Mahkamah Internasional dan MI memutuskan Malaysia yang berhak. Selain itu, jika kedua pulau itu benar-benar milik Indonesia, kenapa tidak ada nelayan atau pun tentara Indonesia yang berjaga di situ sehingga tidak ada seorang pun yang bisa membangun tanpa izin di sana? Kita menelantarkannya, sebaliknya Malaysia justru membangunnya jadi tempat wisata yang indah. Jika Indonesia menjaganya, tak mungkin hal itu terjadi.

Jika "hilangnya" pulau Sipadan dan Ligitan ke Malaysia yang luasnya kurang dari 1 km2 kita marah besar. Sebaliknya kita adem-ayem saja terhadap Singapura yang "mengimpor" pasir pantai sehingga luas negaranya bertambah 100 km2 dan akan terus bertambah jadi 500 km2 sesuai rencana mereka. Rakyat Indonesia justru bersahabat dengan Singapura yang telah mengurangi wilayah Indonesia dan merupakan agen Yahudi di Asia Tenggara.

Indonesia juga diam terhadap negara-negara AS dan Eropa yang mengambil kekayaan alam Indonesia seperti minyak, gas, emas, perak, tembaga, batubara, dan sebagainya. Menurut PENA, pada tahun 2008 sebesar Rp 2.000 trilyun/tahun kekayaan alam Indonesia dinikmati oleh negara-negara asing tersebut.

Ummat Islam harus berpikir, kenapa mereka terhadap orang kafir begitu baik sehingga membiarkan luas negara berkurang sampai 100 km2 lebih dan Rp 2.000 trilyun/tahun lari ke kantong asing, sementara terhadap Malaysia yang sama-sama Muslim bersikap begitu garang sehingga di zaman Bung Karno pernah perang dengan Malaysia?

Karena adu-domba yang dilakukan oleh media massa kafir, akhirnya ummat Islam jadi melanggar perintah Allah dalam Al Qur'an. Ummat Islam justru jadi keras terhadap sesama Muslim dan lembut terhadap orang-orang kafir yang sebenarnya telah menzalimi mereka:

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir…" [Al Maa-idah:54]

Jika Allah mengatakan orang-orang beriman itu bersaudara, sebaliknya sebagian Muslim justru menganggap orang Muslim lainnya yang beda negara seperti musuh besar sementara mereka justru seperti saudara dengan orang-orang kafir:

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." [Al Hujuraat:10]

Ada Muslim Indonesia yang dengan lantang meneriakkan "Ganyang Malaysia" Adakah dia sudah tidak takut dengan siksa neraka karena jika dua Muslim saling bunuh, maka keduanya masuk neraka. Jangankan dibakar dengan api neraka yang mampu mendidihkan otak sehingga manusia jadi seperti orang gila ketika dibakar hingga semata kaki selama-lamanya. Dibakar api lilin yang kecil pun selama 10 menit cukup membuat kita menderita.

Jika terjadi saling bunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, "Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?" Nabi Saw menjawab, "Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya." (HR. Bukhari)

Bayangkan seandainya 1 juta rakyat Indonesia dikerahkan menyerang Malaysia yang berpenduduk 25 juta jiwa. Menang tidak, yang jelas ribuan nyawa akan melayang. Jangankan Indonesia yang senjatanya pantas masuk musium, AS yang penduduknya lebih besar dan persenjataan paling canggih dengan dibantu sekutunya saja kewalahan menghadapi rakyat Iraq yang hanya berpenduduk 16 juta jiwa sehingga memutuskan mundur dari sana. Perang telah menelan lebih dari 4.000 tentara AS dan uang lebih dari Rp 9.000 trilyun. Kalau Indonesia yang APBNnya cuma Rp 1.037 trilyun/tahun memaksakan diri untuk berperang, dijamin langsung bangkrut dan jumlah rakyat yang mati akibat kelaparan macam di Aceh, Papua dan NTT akan bertambah banyak.

Kenapa ummat Islam miskin dan terbelakang? Ya karena mereka mudah diadu-domba untuk perang terhadap sesama. Ummat Islam tidak punya media TV Nasional yang membawa kepentingan Islam. Oleh karena itulah mereka cuma jadi obyek gosip dan adu domba.

Patut disadari oleh umat ini bahwa pihak lain akan senantiasa iri dan dengki kalau umat ini hidup bersatu dan menjadi kuat dengan agamanya. Mereka tidak akan pernah rela hingga umat itu ter-cerabut dari agamanya dan mengikuti cara hidup mereka.

Berikut Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) surat Ali 'Imran:103:

Sejarah para sahabat Rasulullah SAW. di kota Madinah, bahkan masih di masa Baginda Rasulullah SAW masih hidup mengajarkan hal itu. Ketika masyarakat dan negara Islam baru tumbuh di kota Madinah. Dan kedudukan politik dan kekuatan ekonomi mereka menggeser kepentingan dan posisi kaum Yahudi, maka Yahudi membuat makar. Salah seorang tokoh Yahudi yang bernama Syas bin Qais yang sangat benci dengan bersatunya dua suku besar penghuni   kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam, membuat makar dengan mengirim seorang penyair agar mem-bacakan syair-syair Arab Jahiliyah yang biasa mereka pakai dalam perang Buats.  Perang Buats adalah perang yang terjadi selama 120 tahun (Ibnu Ishaq dalam Tafsir Al Mawardi)  antara kaum Aus dan Khazraj. Dan selama musim perang tersebut, pihak Yahudilah yang meng-ambil keuntungan politik maupun ekonominya.

Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum Anshar dari kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota Madinah.  Syair jahiliyah tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan kebanggaan dan kepahlawanan mereka di masa jahiliyah dalam medan perang Buats. Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khaz-raj itu memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama muslim.  Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj.  Dalam puncak emosi perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak histeris : "Senjata-senjata!".

Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama pasukan kaum muslimin untuk melerai mereka.  Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari syaithan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah SAW. dengan senantiasa siap mendengar dan taat…" (Sirah Ibnu Hisyam Juz 1/555).

http://suara-islam.com/index.php/Ibrah/Menjaga-Kesatuan-Umat.html

Karena itulah Allah menurunkan surat Ali 'Imran ayat 103:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu masa Jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya…" [Ali 'Imran:103]

Ada pun surat Ali 'Imran ayat 99 turun berkenaan dengan tokoh Yahudi, Qais, yang gemar mengadu-domba ummat Islam:

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?." Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." [Ali 'Imran 99]

Rasulullah SAW juga melarang keras sikap ashabiyah (Nasionalisme dan tribalisme) seperti itu. Sebagaimana yang tercermin dalam sabdanya:

"Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah" (HR Abu Dawud).

Allah Ta'ala berfirman: "Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba." (al-Qalam: 11)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Tiada seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib -pencatat kebaikan- dan 'Atid -pencatat keburukan-." (Qaf: 18)

Dari Hudzaifah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak dapat masuk syurga seorang yang gemar mengadu domba." (Muttafaq 'alaih)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui dua buah kubur, lalu bersabda: "Sesungguhnya kedua orang yang mati ini disiksa, tetapi tidaklah mereka disiksa karena kesalahan besar. Ya, tetapi sebenarnya besar juga -bila dilakukan secara terus menerus-. Adapun yang seorang diantara keduanya itu dahulunya -ketika di dunia- suka berjalan dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya, maka ia tidak suka menghabiskan sama sekali dari kencingnya -yakni di waktu kencing kurang memperdulikan kebersihan serta kesucian dari najis-." Muttafaq 'alaih. Ini adalah lafaz dari salah satu riwayat Imam Bukhari.

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu domba antara para manusia." (Riwayat Muslim)

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/09/02/173923/1195126/471/merangkul-malaysia

Silahkan kunjungi:

http://kabarislam.wordpress.com

http://islamicbroadcasting.wordpress.com


 

Rincian Artikel  :

Pengirim Artikel  Muhammad Saroji
Alamat Email : muhammadsaroji@gmail.com
Alamat pengirim  :  Pemalang   

Kategori artikel :
Url sumber artikel : http://media-islam.or.id/2009/09/07/mewaspadai-berita-orang-fasik-dan-adu-domba/

 

Catatan : 

1. Konten artikel ini sepenuhnya tanggung jawab Muhammad Saroji  sebagai pengirin artikel

2. Konten artikel yang melanggar Ketentuan Layanan Kami akan dihapus.

 

 

 

 

 

Jangan Marah

 

 

 

 

Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." [Ali 'Imran:159]

Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. Di sini kita akan mempelajari tentang marah.

Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." [HR Bukhari]

Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)

Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya.

Abu Musa r.a. berkata, "Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?' Beliau menjawab, 'Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. "'[HR Bukhari]

Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." Muttafaq Alaihi.

Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama:

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu." Riwayat Muslim.

Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab "Jangan marah" berulangkali:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: "Jangan marah." Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: "Jangan marah." Riwayat Bukhari.

Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah:

Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar:

Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka:

Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, "Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik." Beliau ditanya lagi, "Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?" Rasulullah Saw menjawab, "Mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai."(HR. Muslim)

Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk". Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, "Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman." Nabi Saw menjawab, "Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali." (HR. Al-Baihaqi)

Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan "kurang/tidak beres". Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:

Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka:

Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita:

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka:

Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Nabi Saw lalu berkata, " Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka." (HR. Muslim)

Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan 'Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan…" [Al Hujuraat:11]

Tips agar tidak marah:

   Baca ta'awudz (a'udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
   Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
   Diamlah
   Jika anda berdiri, duduklah.
   Jika masih marah, berwudlu-lah
   Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.



 

Rincian Artikel  :

Pengirim Artikel  Muhammad Saroji
Alamat Email : muhammadsaroji@gmail.com
Alamat pengirim  :  Pemalang   

Kategori artikel : Artikel
Url sumber artikel : http://media-islam.or.id/2007/12/11/jangan-marah/

 

Catatan : 

1. Konten artikel ini sepenuhnya tanggung jawab Muhammad Saroji  sebagai pengirin artikel

2. Konten artikel yang melanggar Ketentuan Layanan Kami akan dihapus.

 

 

 

 

 

Keutamaan Ilmu

 

 

 

 

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, begitu Nabi bersabda.

"Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim (Muslim lelaki dan Muslim perempuan)." (HR. Ibnu Majah)

Kita harus mempelajari ilmu sebelum kita berbicara dan beramal tentang itu:

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah…" [Muhammad 19]

Dalam menyampaikan ilmu, Nabi biasanya mengulang hingga 3x:

"Anas r.a. mengatakan bahwa apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan beliau mengulanginya tiga kali sehingga dimengerti. Apabila beliau datang pada suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka tiga kali." [HR Bukhari]

Ilmu membuat seseorang jadi mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan Allah:

" ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9).

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". (TQS.Fathir [35]: 28)

„Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Al-Mujadilah:11)

Pada surat Ali 'Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan dirinya, lalu dengan malaikatnya, dan kemudian dengan orang-orang yang berilmu. Jelas kalau Allah menghargai orang-orang yang berilmu.

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)" (Ali Imran:18)

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia.

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (Al 'Ankabut:43)

Hendaknya kita berdoa agar ilmu kita senantiasa ditambah:

"Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku." (Thaha: 114)

Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur'an.

"Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat2 yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu" (Al Ankabut:49)

Dalam Kitab Ihya ‚Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali disebut bahwa Nabi berkata: „Di akhirat nanti tinta ulama ditimbang dengan darah para syuhada. Ternyata yang lebih berat adalah tinta ulama!"

Nabi Muhammad SAW juga sangat menghargai orang yang berilmu. "Ulama adalah pewaris para Nabi" Begitu sabdanya seperti yang dimuat di HR Abu Dawud.

Bahkan Nabi tidak tanggung2 lebih menghargai seorang ilmuwan daripada satu kabilah. "Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang 'alim." (HR Thabrani)

Seorang 'alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu2 bisa tersesat karena kurangnya ilmu. "Keutamaan orang 'alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku." (HR At Tirmidzi).

Itulah kemulian orang yang berilmu!

Menuntut ilmu itu pahalanya begitu besar:

"Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. (Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)

"Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali." (HR. Tirmidzi, hasan)

"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR.Muslim)

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama)." (HR.Bukhari)

Menuntut ilmu itu wajib selama kita masih hidup:
اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد.

"Carilah ilmu semenjak dari ayunan sampai liang lahat" [HR Bukhari]

Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa ilmu yang wajib dituntut adalah ilmu yang bermanfaat. Yang bukan hanya benar, tapi juga dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan dapat memberi kebahagiaan bagi kita, keluarga, dan masyarakat baik di dunia mau pun di akhirat.

Rasulullah saw bersabda: "Apabila anak cucu adam itu wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan orangtuanya." (HR.Muslim, dari Abu Hurairah ra)

Allah berfirman, "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah) Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (QS Lukman [31] : 27)

Ilmu itu begitu luas, dari yang bermanfaat hingga yang tidak bermanfaat. Contoh ilmu yang bermanfaat adalah ilmu agama, ilmu fisika, ilmu komputer, dsb. Contoh ilmu yang tidak bermanfaat bahkan terlarang adalah ilmu sihir, ilmu meramal/astrologi, dsb. Begitu banyak ilmu namun waktu kita begitu sedikit. Oleh karena itu hendaknya dipakai untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah memohon dalam doanya, "Allaahumma inni a'uudzubika min 'ilmin laa yanfa'u". 'Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.'

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah SWT Memberi wahyu kepada Nabi Dawud a.s. Firman-Nya, "Wahai, Dawud. Pelajarilah olehmu ilmu yang bermanfaat."

"Ya, Rabbi. apakah ilmu yang bermanfaat itu ? " tanya Nabi Daud.

"Ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu.Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku."

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ar Rabi-i', Rasulullah SAW bersabda, "Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya didunia dan akhirat."

Ternyata ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang menyebabkan kita semakin dapat mengenal Allah, yang dapat kita amalkan, yang membuat kita rendah hati serta terhindar dari sifat takabur..

Ilmu selain diyakini kebenarannya juga harus diamalkan. Sebab ilmu tanpa amal, seperti pohon yang tidak berbuah.

"Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong dia dalam amalan nya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tersesat oleh ilmunya itu. Dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya sehingga ia akan mendapatkan neraka ". (hadits)

Tidak pantas bagi orang Islam/Ulama mengajarkan orang melakukan sesuatu sementara dia sendiri tidak melaksanakannya:

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Sungguh besar murka Allah atas perkataan kalian terhadap sesuatu yang kalian sendiri tidak kerjakan." (QS. Ash Shaff [61]: 2-3)

"Apakah kalian menyuruh orang untuk mengerjakan kebaikan sedangkan kalian melupakan kewajiban diri kalian sendiri. Padahal kalian juga membaca Al Kitab. Tidakkah kalian memahami." (QS. Al Baqarah [2]: 44)

Ilmu atau ayat Al Qur'an yang tidak diamalkan akan jadi beban bagi kita di akhirat:

"Dan al-Qur'an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu." (HR. Muslim)"
"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya." [HR Abu Barzah]

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, 'Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?'. Dia menjawab, 'Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya'." [HR Bukhari dan Muslim]

Begitu juga amal tanpa ilmu, hanya akan membawa kehancuran. Contohnya orang tidak pernah belajar menerbangkan pesawat tentu akan berbahaya jika dia menerbangkan pesawat. Setelah diamalkan, maka disunnahkan bagi kita untuk mengajarkan ilmu tersebut ke orang lain yang belum mengetahui.

Kita menuntut ilmu dunia selama 12 tahun dari SD hingga SMA. Setiap hari paling tidak 5 jam kita mempelajari ilmu dunia. Tapi pernahkah kita menghitung berapa lama kita belajar ilmu agama? Adakah sejam sehari?

Jika tidak, sungguh malang nasib kita, padahal ilmu agama penting bagi kita guna mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Bukankah kebahagiaan di akhirat lebih baik dan lebih kekal? Bukankah hidup di dunia hanya sekejap saja (Cuma sekitar 63 tahun)?

Meski dia profesor Fisika atau Pakar Komputer, tapi jika tidak tahu ilmu agama sehingga sholat, puasa, zakat, dsb tidak benar niscaya dia akan masuk neraka.

Pada awal masa Islam, ummat Islam melaksanakan ajaran tsb dengan sungguh2. Mereka giat menuntut ilmu. Hadits2 seperti "Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pengetahuan, ia berada di jalan Allah", "Tinta seorang ulama adalah lebih suci daripada darah seorang syahid (martir)", memberikan motivasi yang kuat untuk belajar.

Ummat Islam belajar dari orang Cina teknik membuat kertas. Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad tahun 800, dan perpustakaan pun tumbu dengan subur di seluruh negeri Arab (baca: Islam) yang dulu dikenal sebagai bangsa nomad yang buta huruf dan cuma bisa mengangon kambing.

Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi memiliki kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Kordoba (Spanyol) pada abad 10, Khalifah Al Hakim memiliki suatu perpustakaan yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya raja Perancis Charles yang bijaksana (artinya: pandai) hanya memiliki koleksi 900 buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya 16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang filsafat.

Pada masa awal Islam dibangun badan2 pendidikan dan penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.

Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan "Angka Arab" (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem "Angka Arab" yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa. Kita mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka Romawi, yaitu "III," tapi coba tulis angka 879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi. Bingungkan? Jadi para ahli matematika dan akuntan haruslah berterimakasih pada orang-orang Islam, he he he..:) Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0 dan 1) sebagai basis perhitungannya, kalau dengan angka Romawi (yang tak mengenal angka 0), tak mungkin hal itu bisa terjadi.

Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithm (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra).

Omar Khayam menciptakan teori tentang angka2 "irrational" serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu'adalah (equation).

Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).

Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa.

Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat.

Dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh ummat Islam di bidang ilmu pengetahuan. Ketika terjadi perang salib antara raja Richard the Lion Heart dan Sultan Saladdin, boleh dikata itu adalah pertempuran antara bangsa barbar dengan bangsa beradab. Raja Richard yang terkenal itu ternyata seorang buta huruf, (kalau rajanya buta huruf, bagaimana rakyat Eropa ketika itu) sedangkan Sultan Saladin bukan saja seorang yang literate, tapi juga seorang ahli di bidang kedokteran. Ketika raja Richard sakit parah dan tak seorangpun dokter ahli Eropa yang mampu mengobatinya, Sultan Saladin mempertaruhkan nyawanya dan menyelinap di antara pasukan raja Richard dan mengobatinya. Itulah bangsa Islam ketika itu, bukan saja pintar, tapi juga welas asih. Jika kita menonton film Robin Hood the Prince of Thieves yang dibintangi Kevin Kostner, tentu kita maklum bagaimana Robin Hood terkejut dengan kecanggihan teknologi bangsa Moor seperti teropong.

Tapi itu sekarang tinggal sejarah. Ummat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan tak heran jika mereka jadi bangsa yang terbelakang. Hanya dengan menghidupkan ajaran Islam-lah kita bisa maju lagi.

Ummat Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu 'ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya.

Jika sebagian muslim sudah mempelajarinya (misalnya ada beberapa orang yang belajar ilmu kedokteran), maka gugurlah kewajiban itu bagi yang lainnya. Tapi mempelajari ilmu agama adalah fardu 'ain, kewajiban bagi setiap Muslim. Tanpa ilmu, maka semua amalnya akan ditolak.

Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Jadi ilmu agama yang pokok agar setiap muslim bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan menghayati 6 rukun Iman serta mengetahui kewajiban dan larangan Allah harus dipelajari oleh setiap muslim. Untuk apa kita jadi ahli komputer, kalau kita akhirnya masuk neraka karena tidak pernah mengetahui cara shalat?

Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang menguasainya.

Yang pertama harus kita pelajari adalah aqidah atau tauhid yang juga disebut "Ushuluuddiin" (Dasar-dasar Agama). Ini adalah fondasi yang harus kita kuasai. Kita bukan cuma tahu bahwa rukun iman ada 6, tapi juga tahu dalil-dalilnya. Sebagai contoh, beriman kepada Allah. Kita juga harus tahu sifat-sifat Allah seperti wujud (ada). Kita tidak bisa cuma bilang bahwa Tuhan itu ada. Tapi juga harus bisa membuktikan/menjelaskan dalil-dalil bahwa Tuhan itu memang ada.

Tanpa aqidah yang kuat, maka seseorang yang ibadahnya rajin dapat tersesat atau murtad dengan mudah.

Setelah aqidah kita kuat dan dilandasi dengan ilmu, baru kita mempelajari Fiqih. Fiqih adalah ilmu yang menjelaskan cara-cara beribadah kepada Allah seperti sholat, puasa, zakat, hubungan dengan sesama manusia, dan sebagainya. Banyak kewajiban mau pun larangan yang harus kita ketahui, ada di kitab-kitab Fiqih.

Yang harus kita ketahui lagi adalah, ilmu agama harus berlandaskan Al Qur'an dan Hadits yang shahih. Jika satu masalah tidak tercantum dalam Al Qur'an dan Hadits, baru dilakukan ijtihad. Tapi ijtihad ini pun tidak boleh bertentangan dengan Al Qur'an dan hadits.

Menuntut ilmu juga niatnya harus untuk Allah semata. Bukan untuk kepentingan pribadi.

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al Ghazali menulis sebagai berikut : "Wahai, hamba Allah yang rajin menuntut ilmu. Jika kalian menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata-mata. Di samping itu, juga dengan niat karena melaksanakan kewajiban karena menuntut ilmu wajib hukumnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam laki-laki maupun perempuan" [HR Ibnu Abdul barr]

Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan maksud untuk bermegah-megahan, sombong, berbantah-bantahan, menandingi dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya orang mengagumimu. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana mengumpulkan harta benda kekayaan duniawi. Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.

Nabi SAW mencegah hal seperti itu dengan sabdanya. "Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. " [HR Abu Dawud]

Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka." [HR Tirmidzi & Ibnu Majah]

"Seorang 'alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhaan Allah, maka dia akan ditakuti oleh segalanya. Akan tetapi, jika dia bermaksud untuk menumpuk harta, maka dia akan takut dari segala sesuatu." [HR. Ad Dailami]

Sedikit nasehat dalam belajar: Biasakan usai belajar di sekolah/madrasah, dibaca/pelajari lagi apa yang baru dipelajari. Kemudian saat akan belajar di sekolah juga baca/pelajari apa yang akan dipelajari. Dengan cara ini, ilmu akan lebih melekat ketimbang dengan memakai "sistem" SKS (Sistem Kebut Semalam) yang dalam waktu 1-2 minggu juga bisa hilang lagi hafalan/ilmunya.

"…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui" [An Nahl 43]

Dirangkum dari berbagai tulisan seperti "Ilmu yang bermanfaat" (Aa Gym), "Ihya 'Uluumuddiin" (Imam Al Ghazali)

Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Islam dan bisa menegakkan kalimah Allah.


 

Rincian Artikel  :

Pengirim Artikel  Muhammad Saroji
Alamat Email : muhammadsaroji@gmail.com
Alamat pengirim  :  Pemalang   

Kategori artikel : Artikel
Url sumber artikel : http://media-islam.or.id/2007/09/14/keutamaan-ilmu/

 

Catatan : 

1. Konten artikel ini sepenuhnya tanggung jawab Muhammad Saroji  sebagai pengirin artikel

2. Konten artikel yang melanggar Ketentuan Layanan Kami akan dihapus.

 

 

 

 

 

Setan Lebih Mudah Sesatkan 1000 Ahli Ibadah daripada Seorang Alim

Di kitab Ihya 'Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali disebut bahwa setan lebih mudah menyesatkan 1000 orang ahli ibadah (minim ilmu) daripada seorang alim yang berilmu.
Jadi ilmu harus ada sebelum amal. Amal tanpa ilmu ditolak. Ilmu tanpa amal tidak manfaat. Ilmu harus diamalkan. Dan amal harus ikhlas.

" ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9).

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". (TQS.Fathir [35]: 28)

„Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia.

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (Al 'Ankabut:43)

Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur'an.

"Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat2 yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu" (Al Ankabut:49)


 


Rincian Iklan :


Pengirim Iklan :  Muhammad Saroji
Alamat E-mail : muhammadsaroji@gmail.com
No. Telp/Hp : 083871231828
Alamat pengirim :  Pemalang
Kategori Iklan : Artikel
Alamat situs yang bisa dikunjungi : http://media-islam.or.id/2015/02/15/setan-lebih-mudah-sesatkan-1000-ahli-ibadah-daripada-seorang-alim/

Catatan :

1. Seluruh isi iklan ini adalah tanggung jawab Muhammad Saroji sebagai pengirim iklan

2. Admin berhak menghapus konten iklan yang melanggar ketentuan layanan kami